MikeMediaIndonesia.com, Morotai – Mencermati fenomena yang terjadi dalam dunia Pendidikan, maka sangat tepat pernyataan moral dari Nelson Mandela (Mantan Presdiden Afrika Selatan): “Education is the most powerful weapon in the world (=Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia).”
Hal ini menunjukan bahwa tanpa pendidikan baik formal, informal maupun nonformal maka dunia ini gelap. Salah satu subjek sentral dari pendidikan adalah manusia. Di mana sumber daya manusia merupakan entitas substantif yang arus dikembangkan secara rutin dan kontinue.
Yosef Latu, S.IP, PNS di Kabupaten Morotai Provinsi Maluku Utara, sekaligus Pemerhati Sosial Politik Morotai melalui HARUM CENTER (Himpunan Anak Rantau Untuk Morotai) ketika ditemui MikeMediaIndonesia.com menanggapi pentingnya para generasi muda agar lebih fokus membaca buku ketimbang gadgetnya (10/11/2024).
“Salah satu strategi eksternal untuk meningkatkan kesadaran membaca buku adalah dengan menghadirkan Perpustakan yang nyaman dan menyenangkan.” pungkasnya.
Tiga pendekatan yang menjadikan perpustakaan dapat melakukan perbaikan dalam rangka kesejahteraan masyarakat yaitu pendekatan kerangka regulasi, kerangka kebijakan nasional, dan kerangka kelembagaan perpustakaan.
Pertama yaitu pendekatan kerangka regulasi menetapkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah menjadi dasar hukum tertinggi pengelolaan pengembangan perpustakaan di Indonesia.
Kedua yakni kerangka kebijakan nasional di mana Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden K.H. Ma’ruf Amin menjadikan perpustakaan dan literasi menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional Tahun 2020-2024.
Lalu ketiga, pendekatan kerangka kelembagaan perpustakaan menegaskan bahwa setelah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah diterbitkan, perkembangan kelembagaan perpustakaan semakin kuat, baik di tingkat Provinsi dan di Kabupaten/Kota. Di mana Perpustakaan Nasional juga senantiasa mengupayakan seluruh jenis perpustakaan menjadi sesuai dengan standar UNESCO.
Hal tersebut ditandai dengan tingkat kemanfaatan perpustakaan oleh masyarakat telah mencapai 2,08%. Selanjutnya, beberapa capaian lain diantaranya semakin meningkatnya standarisasi atau akreditasi perpustakaan menjadi 5,12%.
Dalam beberapa capaian Perpusnas beberapa tahun belakangan ini, baik dalam hal inovasi maupun kreativitas program, seluruhnya meningkatkan kondisi kegemaran membaca masyarakat Indonesia dan indeks pembangunan literasi masyarakat menjadi SDM unggul.
Dengan demikian ketika kita membaca buku secara sungguh-sungguh maka akan berdampak signifikan dengan kesejahteraan hidup dan kharakter diri.
Membaca buku merupakan aktivitas yang mempunyai banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Sebab buku merupakan satu di antara sumber pengetahuan yang bisa menambah wawasan dan bisa mengetahui apa saja yang ada di penjuru dunia. Tanpa kita sadari, membaca buku dapat memberikan banyak inspirasi bagi kita demi mengabdi negeri. (AB/Morotai)
















