MikeMediaIndonesia.com, Nusa Utara – Dr. Krets Mamondole, M.Th., atau yang dikenal dengan nama akrab Embo Krets, belakangan ini menjadi pembicaraan hangat di masyarakat Nusa Utara, sebutan untuk gabungan Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sitaro dan Talaud ini, tidak lepas dari upayanya dalam hal memperjuangkan nasib kehidupan warga Nusa Utara, terlebih mereka yang berada di daerah perbatasan Indonesia – Filipina.
Krets Mamondole merupakan seorang pelaut ulung yang telah malang melintang melayari berbagai rute internasional.
Sambil bekerja, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk dunia pelayanan dan kerohanian. Suami dari seorang Pendeta, Pdt. Dr. Orpa Luas ini, kerap melakukan pelayanan di Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST). Satu persatu, pulau demi pulau didatanginya untuk missi dan visi pelayanannya. Hampir semua gereja di Sitaro dan Sangihe telah dilayaninya.
Embo Krets tidak lupa memberi hidupnya untuk selalu melayani Tuhan dan masyarakat Nusa Utara, menolong mereka yang butuh pertolongan, membuka akses dan koneksi bagi banyak masyarakat Nusa Utara untuk mendapatkan pekerjaan dalam dunia pelayaran.
Ratusan mahasisawa asal Nusa Utara yang menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Teologi Bethesda mendapatkan uluran tangannya, itulah sebabnya sehingga masyarakat Nusa Utara jatuh hati serta mendukung Krets Mamondole untuk maju ke DPR RI dari Nusa Utara agar lebih maksimal lagi memperjuangkan nasib warga di perbatasan Indonesia – Filipina.
Sekilas, ini tentang otobiography hidup Capt Krets Mamondole atau sering disapa, Embo Krets, yang merupakan seorang kapten kapal berpengalaman, dermawan dan juga bermental baja. Lelaki Kelahiran Siau, 25 September 1963 itu telah mengarungi lautan dan berlabuh di hampir semua pelabuhan internasional di berbagai negara.
Dengan pengalaman bekerja di kapal-kapal bertonase besar serta lewat pendidikan formil, Krets Mamondole akhirnya berhasil menulis sebuah buku spektakuler berjudul: “Anchor Handling”.
Buku Anchor Handling adalah sebuah buku sekaligus sebuah berkat. Anchor Handling adalah buku panduan tentang teknologi perkapalan terutama bidang jangkar, dan lewat hasil penjualan buku inilah Sekolah Tinggi Teologi Bethesda Jakarta, berdiri.
Anchor Handling sangat populer di dunia kemaritiman internasional karena secara spesifik membahas teknologi jangkar dan permasalahannya. Saking pentingnya bagi para pelaut dunia, buku ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi best seller di dunia maritime, terutama di Negara Amerika dan Negara Eropa. Harga per eksemplar buku mencapai 100 dolar. Hanya dalam waktu 1 tahun penjualan buku ini telah meraup keuntungan sebesar Rp200 juta. Dan dari dana keuntungan pertama inilah bangunan Sekolah Tinggi Theologi Bethesda di kawasan Kota Harapan Indah Bekasi berdiri.
Setelah 7 tahun hingga sekarang, buku Anchor Handling telah menjadi salah satu buku panduan bagi para pelaut dunia. Dan semua keuntungan dari hasil penjualan tersebut 100% disumbangkan bagi pengembangan sekolah tinggi tersebut.
“Sejak awal menulis buku itu, saya berdoa kepada Tuhan dan bernasar, kiranya karya intelektual saya ini bisa menjadi berkat dan paduan dalam pelayanan di tengah dunia, baik sebagai sumbangan keilmuan dalam dunia teknologi perkepalan, juga sebagai sarana pelayanan membangun iman kepada Tuhan,” ungkap lelaki yang memulai karir pelayarannya dari koki ini.
Kini, keseharian dari Kapten Krets Mamondole, masih berhubungan erat dengan dunia pelayaran, dan bisnis perkebunan sawit di pulau Kalimatan. Beliau mengelola ratusan hektar perkebunan sawit miliknya.
“Saya sangat senang melihat anak-anak kita dari Nusa Utara yang berprestas lebih khusus lagi anak-anak kita yang dari Sitaro. Ya, apa salahnya bila melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Saya bantu mereka, dengan cara menanggung seluruh biaya selama mereka menuntut ilmu. Saya berangkatkan mereka ke Bekasi untuk mereka tinggal di sana sambil kuliah” jelasnya, menutup percakapan.
(MikeTiwira*)
















